Blogroll


ShoutMix chat widget

Work Hard

Go to Blogger edit html and find these sentences.HOSHI LES PRIVATE BAHASA ASING. ALAMAT. JL. IKAN ARWANA Q16 MALANG.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

CHASSIS GOLDEN DRAGON, MESIN YUUCHAI 300HP.

This is default featured post 5 title

AKAS IV PARIWISATA

Tampilkan postingan dengan label TUGAS KULIAH SASTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TUGAS KULIAH SASTRA. Tampilkan semua postingan

15 Nov 2010

CERITA HANA

Cerita Hana adalah cerita yang mengisahkan pendeta yang memiliki hidung yang panjang. Karena memiliki hidung yang tidak wajar pendeta itu merasa tidak percaya diri. lalu bagaimana kisah selanjutnya Klik disini untuk mengetahui kisah Pendeta dalam Cerita HAna

20 Nov 2009

KEMERDEKAAN

Cerita pendek karya Putu wijaya

Ateng bertanya kepada seorang pembantu rumah tangga, apa arti kemerdekaan. Tetapi yang ditanya diam saja menatap Ateng seperti ayam menunggu diserakin gabah. “Apa artinya kemerdekaan buat kamu?” tanya Ateng sekali lagi. Tetapi pembantu itu masih saja melongo.
Ateng lantas mengambil sapu di tangan pembantu itu. Menyuruhnya berdiri di pojok. Lalu menyorongkan lagi pertanyaan itu. “Apa arti kemerdekaan bagi kamu?”
Sekarang pembantu itu mesem-mesem. “Ah, masak yang begitu ditanyakan. Tahu sendirilah,” katanya dengan geli dan genit. Kemudian ia menjiwit Ateng. Ateng serta merta menepiskan tangan itu, lalu bertanya sekali lagi dengan muka yang lebih bersungguh-sungguh.
“Ini bukan main-main. Apa arti kemerdekaan bagi kamu? Apakah sesudah lima puluh tahun kita merdeka, kamu merasa diri kamu benar-benar merdeka? Apa arti kemerdekaan itu buat kamu?”
Digertak macam itu, pembantu itu bukannya takut. Ia memang berasal dari Jawa, tapi mentalnya sudah bukan mental abdi dalem. Ia pembantu masa kini. Langsung saja ia merebut sapunya lalu pergi.
Ateng mencoba mengejar dengan penjelasan. “Eeee tunggu, bahenol! Kita sebentar lagi merayakan hari proklamasi, hari ulang tahun kemerdekaan kita. Nah untuk menyambut peringatan hari kebebasan kita, apa pendapat kamu tentang kebebasan?”
Tetapi pembantu itu sudah masuk rumah, langsung mengunci pintu. Ateng hanya bisa mendengar buntut omelannya yang cekikikan seakan-akan ia sedang diburu-buru mau diperkosa. Nyonya rumahnya nampak menyorongkan kepala keluar jendela, melihat kepada Ateng dengan mata sengit. Ateng terpaksa mencelup di balik pagar sebelum ketahuan.
Kemudia Ateng memburu pembantu lain yang lebih tua dan bisa diajak tst. Namun seperti pembantu yang pertama, pembantu yang kedua juga geli mendengar pertanyaan itu. Baru setelah disogok dengan selembar ribuan dan janji keterangannya tidak akan disebarluaskan wanita itu mulai merespon. Tapi ia nampak malu-malu mengeluarkan suaranya sendiri di depan tape recorder yang dihunus Ateng.
Ateng terpaksa memancing. “Apa kemerdekaan bagi mbak ini artinya kebebasan?”
Pembantu itu mengangguk disertai suara lirih, “Ya.”
“Apakah arti kebebasan bagi mbak?”
Wanita itu bingung. Ateng mengubah pertanyaannya.
“Apakah di dalam kemerdekaan ini mbak merasa bebas?”
“Nggak tahu.”
Ateng mematikan tape recorder. Ia memberikan penjelasan, karena menganggap ada salah pengertian.
“Begini mbak, coba dengar baik-baik. Mbak kalau ditanya jawabnya tidak boleh tidak tahu. Harus menjawab ya atau tidak. Paham?”
“Ya.”
Ateng memasang lagi tape recorder.
“Apa arti kemerdekaan bagi mbak?”
Wanita itu terdiam. Nampak bingung. Ateng menunggu. Tapi kebingungan wanita itu tidak berkurang. Terpaksa Ateng mengganti lagi pertanyaannya.
“Oke begini. Apakah mbak merasa diri mbak merdeka?”
“Tidak.”
“Nah itu bagus. Begitu kalau menjawab. Baik, sekarang, mengapa mbak merasa tidak merdeka?”
Ateng terpaksa mematikan kembali tape recordernya. Dia minta uangnya kembali, karena wawancara dianggap gagal. Sambil misuh-misuh, ia mencari pembantu lain.
Memang sulit mencari pembantu yang mau diwawancarai. Ada yang mau, tapi waktunya tak ada. Ada yang sudah diwawancarai, tetapi jawabannya kacau. Untung akhirnya Ateng bertemu dengan mantan seorang pembantu yang sudah berwiraswasta.
Wanita itu menjawab pertanyaan Ateng dengan menggebu-gebu. “Kemerdekaan artinya adalah kebebasan,” katanya dengan sengit, seperti penjudi yang sedang jalah total. “Kemerdekaan bagi kita ada kebebasan,” katanya mengulangi pernyataannya. Tapi kemudian ia tidak mampu melanjutkan. Hanya matanya saja yang berkejap-kejap seperti hendak menangkap sesuatu.
Ateng kembali turun tangan.
“Oke, Bu, kalau kemerdekaan adalah kebebasan. Kebebasan itu apa?”
“Kebebasan?”
“Ya, apa arti kebebasan buat ibu?”
“Ya, kemerdekaan!”
Ateng tiba-tiba merasa dipermainkan. Tetapi mantan pembantu itu cuma ketawa. Ketika Ateng mau bertanya lagi, wanita itu menadahkan tangan. Sambil menyumpah-nyumpahi dunia bahwa segalanya sudah serba mata duitan, Ateng terpaksa mengeluarkan selembar ribuan lagi.
Wanita itu menolak. Dia mengacungkan dua jari. Terpaksa Ateng mengulurkan satu lembar lagi.
“Itu sudah semuanya,” katanya. “Jadi, apa anti kebebasan buat ibu?”
“Kebebasan?”
Ateng diam sejenak, tak menanggapi. Wanita itu mulai merasa Ateng kesal.
Kemudian ia menjawab dengan lebih sungguh-sungguh.
“Apa arti kebebasan itu, apa ya? Ya kebebasan, begitu. Seperti biasanya saja. Ya bebas. Bebas artinya ya merdeka. Ya kan?”
Ateng tidak menjawab. Dia mendengarkan saja.
“Kebebasan itu apa ya? Masak disitu tidak tahu. Kan mestinya lebih tahu. Kebebasan itu kan kemerdekaan. Apa iya? Contohnya saja, kalau Tuan dan Nyonya kita lagi tidak di rumah, kita baru merasa diri kita merdeka,” kata wanita itu mulai lancar berbicara.”Sebab kalau mereka tidak ada, kita bisa bangun jam berapa saja. Kita bisa makan apa saja. Kita bisa duduk di atas sofa dimana mereka biasanya duduk nonton film-film porno. Kita bisa nyetel kaset dangdut sambil goyang-goyang. Kita bisa bebas memukuli anjing piarannya yang manja tidak ketulungan itu. Bahkan kita bisa tidur di atas tempat tidurnya. Pokoknya kita bisa melakukan apa saja yang kita mau. Tapi ini semua rahasia, jangan bilang-bilang sama mereka, nanti kita bisa kontan dipecat.”
“Jadi menurut ibu, kebebasan dan kemerdekaan itu berarti kamu dapat berbuat semena-mena?”
Sekarang wanita itu bengong.
“Apa?”
“Jadi ibu baru merasa merdeka dan bebas, kalau ibu bisa berbuat seenak perut ibu sendiri?”
Pembantu itu tercengang. Ateng jadi penasaran.
“Lho itu kan baru saja ibu katakan sendiri tadi. Ini, kalau tidak percaya dengerin lagi!”
Ateng mengeluarkan tape yang sejak tadi disembunyikannya. Memutar ulang pitanya.
“Itu suara kita?”
“Ya, suara ibu.”
Mantan pembantu itu merebut tape recorder dari tangan Ateng, lalu memegang lebih dekat ke kupingnya. Beberapa lama kemudian ia tertawa kesenangan.
“Lucu ya suara kita, kok cemeng begitu,” katanya sambil terus menikmati suaranya sendiri.
Ateng merebut kembali tape itu.
“Jadi buat ibu kebebasan dan kemerdekaan itu adalah kalau ibu bisa berbuat suka-suka ibu sendiri?”
Wanita itu senyum-senyum.
“Ya atau tidak?”
“Nggak tahu!”
“Lha itu di rekaman tadi ibu bicara begitu!”
“Habis direkam sih, siapa yang suruh. Jadi lucu begitu. Kok bisa cemeng sekali. Genit, kenes lagi, Ha-ha-ha. Coba dengerin sekali lagi!“
Sebelum Ateng sempat berkelit, wanita itu merebut tape itu dan menyetelnya. Lalu ia tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba saja ia lari masuk ke dalam rumah memanggil temannya. Tak lama kernudian terdengar sepasang ketawa berderai-derai. Ateng yakin mereka hanya menertawai bunyi yang keluar dari tape itu. Mereka sama sekali tidak peduli apa artinya.
***
Beberapa lama kemudian, Ateng menemui seorang guru. Kepada lelaki yang sudah mengabdi selama 25 tahun itu, ia menanyakan pertanyaan yang sama.
“Apa artinya kemerdekaan bagi bapak, Pak Guru?” Guru sekolah itu terdiam lama sekali. Jelas ia sedang berusaha untuk merumuskan kemerdekaannya seakan-akan takut keseleo. Ateng tak sabar, “Saya bukan murid sekolah, Pak,” ucapnya, “Saya juga bukan pejabat yang mau memancing-mancing. Saya hanya seorang yang dahaga pada informasi.”
Guru itu kaget mendengar penjelasan Ateng. Ia malah jadi kecut. Ateng terpaksa buru-buru memberikan keterangan.
“Coba dengar, Pak. Begini. Maksud Ateng bukan mencari rumus kemerdekaan dengan kata-kata yang baku dan kemudian seperti biasanya ternyata hanya tong kosong yang nyaring bunyinya. Tidak. Ateng hanya ingin mencari arti kemerdekaan yang spontan keluar dari seorang guru yang pada hakekatnya juga seorang manusia. Manusia yang sama dengan manusia lainnya, manusia yang setiap saat bisa bikin kesalahan. Dan ini bukan untuk apa-apa. Bukan untuk ditulis di koran, karena saya bukan wartawan. Saya menanyakan ini semua untuk arsip sendiri, untuk menambah pengertian saya sendiri tentang makna kemerdekaan.”
Guru itu mengerti. Tapi tidak mengerti apa perlunya arsip-arsip kemerdekaan buat Ateng.
“Buat apa mencari arti kemerdekaan bagi orang lain, kan lebih baik menghayati sendiri arti kemerdekaan buat diri sendiri, Pak Ateng?”
Ateng terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia cepat menyerap dan kemudian mempergunakannya.
“Ya memang, maksud saya memang begitu. Agar saya bisa menghayati kemerdekaan secara lebih afdol, saya memerlukan bandingan dan masukan arti kemerdekaan bagi orang lain. Bagi seorang pembantu, misalnya. Bagi seorang pelacur, misalnya. Bagi seorang jenderal, gubernur atau menteri, misalnya?”
“Menteri juga?”
“Ya dong!”
“Apa kata mereka?”
Ateng tentu saja belum sempat menanyakan itu kepada menteri, sebab baik gagasan mewawancarai jenderal maupun gubernur itu baru hinggap di kepalanya saat sedang bicara untuk meyakinkan guru itu. Kini tiba-tiba ia merasa, itu gagasan yang baik juga.
“Jenderal dan gubernur juga?”
“O ya, pokoknya semuanya, Pak. Apa arti kebebasan dan kemerdekaan buat semua lapisan masyarakat. Nah, setelah itu, saya baru akan bisa menyerap dengan lebih sungguh-sungguh lagi apa makna kemerdekaan itu. Sebab setelah setengah abad merdeka, kita semua harus tahu apa yang kita miliki itu. Benar tidak, pak?”
Guru itu setuju. Ia nampak tertarik pada usaha Ateng. Lalu ia mengusulkan sederet nama yang katanya tidak boleh tidak mesti ditanya.
“Apa arti kemerdekaan dari seorang tukang becak, harus ditanyakan sekarang cepat-cepat. Kalau tidak, nanti tukang becaknya keburu habis. Apa arti kemerdekaan bagi seorang pemulung juga penting, karena siapa tahu pemulung juga sebentar lagi tergusur rumahnya, kena pembebasan tanah yang mau dipakai sebagai real estate. Itu penting sekali, sebab nanti pada tahun 2000 mungkin semua orang sudah digusur, jadi tak ada yang bisa ditanyai lagi. Juga penting ditanyai apa arti kemerdekaan buat Angkatan 45 yang sudah berjuang di dalam revolusi dulu, sebab sebentar lagi Angkatan 45 juga semuanya pasti akan meninggal dunia. Sekarang mumpung masih sehat-sehat, ditanyai saja. Juga apa arti kemerdekaan bagi istri-istri kedua, istri-istri simpanan. Apa arti kemerdekaan bagi pemimpin politik, pemimpin partai. Dan, tidak kalah pentingnya adalah apa arti kemerdekaan buat…”
Guru terdiam.
“Buat siapa Pak?”
“Buat seorang Guru.”
Ateng lalu menyodorkan tapenya.
“Ya, apa artinya kemerdekaan buat seorang guru pak?”
Guru itu cepat-cepat menghindari tape tersebut.
“Lho-lho jangan saya. Saya ini bukan seorang guru yang baik. Walaupun saya sudah menjadi guru selama 40 tahun, tapi saya tidak bisa mewakili guru-guru lain untuk memberikan rumusan mengenai kemerdekaan. Itu masalah besar yang memerlukan sebuah seminar yang akbar. Jangan, jangan!”
Agak lama juga Ateng membujuk, baru guru itu dapat ditenangkan. Baru ia mengerti apa sebenarnya maksud Ateng. Lalu dari mulutnya mengucur keterangan seperti ban sepeda yang bocor.
“Tentang kemerdekaan, itu sudah jelas. Itu artinya independence dalam bahasa Inggris kan? Liberty dan independence. Ya buat siapa saja arti kemerdekaan adalah memperoleh semua hak-hak yang memang menjadi haknya. Lalu menjadi mandiri. Berdiri di atas kaki sendiri. Jangan kaki orang lain. Apalagi kepala orang lain, atau kemiskinan orang lain. Itu saja. Itu secara umum saja, rumusannya pasti begitu, lebih kurang. Nah kalau ditanyakan apa arti kemerdekaan bagi pribadi-pribadi, nah itu bisa rame.”
“Memang itu maksud Ateng, Pak. Apa arti kemerdekaan bagi bapak pribadi?”
“Bagi saya sebagai apa? Sebagai seorang lelaki? Sebagai seorang bapak? Sebagai seorang anggota masyarakat? Sebagai seorang pemilik kios? Lho, mesti jelas, sebab jawabannya bisa lain-lain. Ya tidak?”
“Bapak sebagai guru.”
“Sebagai guru?”
Ateng mengangguk
“Tapi ini jawaban pnibadi iho. Dan ini jelas bukan pernyataan. Ini adalah jawaban biasanya, karena bapak ditanya. Tahu kan beda pernyataan dan jawaban biasa?”
“Bedanya, apa?”
“Ya pernyataan itu adalah proklamasi, sedangkan jawaban itu adalah pernyataan juga, tetapi dinyatakan sesudah ditanyai. Lho Ateng ini kan menanya, jadi saya menjawab saja. Ya kan?”
“Betul. Jadi kemerdekaan itu menurut bapak bagaimana?”
‘Kemerdekaan? Kemerdekaan itu bagi bapak adalah keleluasaan untuk mengutarakan pendapat-pendapat yang berbeda. Keleluasaan untuk melakukan hal-hal yang menurut keyakinan kita benar, meskipun buat orang lain mungkin tidak. Keleluasaan untuk mengajarkan apa yang kita yakini. Menyebarkan apa yang kita sukai dan kita percayai kepada murid-murid, jadi bukannya keharusan untuk mengajarkan sesuatu yang sudah dianggap sebagai pelajaran baku, padahal sebenarnya kita tidak setujui.”
“Kita baru merasakan kemerdekaan kalau kita diberikan kesempatan. Kalau kita diberikan imbalan yang cukup dan semestinya dengan pekerjaan dan jasa-jasa yang sudah kita berikan. Agar kita bisa bebas dari perasaan minder, perasaan serba kekurangan. Dengan begitu baru kita akan memiliki harga diri seperti manusia lain. Guru harus diberikan kesempatan untuk hadir sebagai manusia biasa, baru dia akan menjadi guru yang baik. Guru harus dibebaskan dari hukuman yang mengutuk dia menjadi orang suci. Itu terlalu berat. Guru mesti diberikan keringanan supaya bisa bebas, keringanan untuk menjalankan apa saja yang diyakininya. Termasuk keringanan untuk…”
“Untuk apa, Pak”
“Untuk kawin dengan munidnya sendiri, misalnya. Lho, ya tidak. Itu kan hak asasi manusia. Kalau seorang guru misalnya mencintai dan dicintai oleh muridnya, apa salahnya kalau mereka menikah. Tapi nyatanya di dalam masyarakat kita itu dicela, bahkan dikutuk. Guru selalu ditimbun dengan bermacam-macam tugas dan larangan-larangan, sehingga sebenarnya sebelum menjalankan tugasnya, ia sudah cacat sebagai manusia. Lha, bagaimana dia akan menjadi pengajar yang baik kalau dia sudah dalam keadaan tidak sempurna? Coba bayangkan saja. Bisa tidak Ateng membayangkan, bahwa semua guru-guru TK sampai ke perguruan tinggi sekarang sebenarnya orang-orang cacat. Hasilnya ya pasti saja cacat semuanya. Makanya, kalau ingin memperbaiki mutu pendidikan kita, perbaiki dulu posisi seorang guru. Ini semua tolong diperhatikan betul. Dan jangan lupa semuanya yang saya katakan tadi off the record. Sudah ah!”
Ateng manggut-manggut lalu mematikan tape recordernya yang sejak awal sekali rupanya salah pijit: bukannya record tapi pause. Ia terpaksa membujuk guru itu untuk berbicara sekali lagi tentang hal yang sama, tetapi ditolak, karena guru itu tidak ingat lagi apa yang sudah dikatakan nya.
“Mungkin bukan tidak ingat, tapi saya malu,” kata guru itu dengan lugu. (***)

IMPIAN DI TENGAH MUSIM

Cerita karya Bakdi Soemanto..

Tiba-tiba pintu kamar dibuka dan luar dengan mendadak. Seorang perempuan, sepertinya istrinya, masuk dan langsung menjatuhkan di lantal sebuah bungkusan besar dan taplak meja. Buzz ingat, di dalamnya setumpuk kain batik. Lalu, perempuan itu, mungkin istrinya, duduk di sebelahnya, di pinggiran tempat tidur.
Ia mengatakan turis-turis itu tiba-tiba pulang. Kerusuhan di kota membuat mereka takut. Ada perintah dari Kedutaan supaya mereka kembali ke tanah air masing-masing selekasnya. “Aku tak dapat uang sepeser pun. Malah ngutang sama Jeng Witri buat bayar becak pulang,” katanya dengan nada putus asa. “Aku tak beli lauk buat kamu. Kalau mau makan, pakai lauk biasanya saja. Sambal bawang. Asal pedas dan asin kan sudah. Tapi, nasinya jangan dihabiskan. Kalau belum kenyang, ketela bisa direbus. Hanya saja, jangan semuanya.”
“Kamu mau ke mana lagi,” tanya Buzz.
“Mengembalikan kain-kain ini. Mau dijual ke mana lagi. Aku nggak ngerti. Kain-kain seperti itu kan cuma turis bule yang mau. Mana ada orang kita beli kain begituan,” jawab si perempuan sambil menendang bungkusan itu. Ia lalu mengumpat si Minten. Menurutnya, perempuan itu suka menjerumuskan. Dasar!
Perempuan itu, mungkin istrinya, berdiri cepat. Tangkas. Tubuhnya gendut lagi ringan. Kakinya kayak nggak nyentuh lantai. Dijinjingnya bungkusan itu lalu lari keluar. Daun pintu ditutup keras. Keras sekali. Buzz kaget. Lho, kok marah? Ia pengin berdiri mau lihat perempuan itu dari jendela. Tapi pantat lengket dengan kasur. Malah tarikannya makin kuat. Makin kuat.
Ini edan. Kasur edan! Lalu tangannya lengket juga. Kemudian tubuhnya seperti ditarik oleh kasur itu. Semakin ia meronta, semakin kuat tarikan kasurnya. Akhirnya kembali Buzz terlentang di tempat tidur. Ia ingin berteriak minta tolong. Tapi mulut seperti terbungkam dan kerongkongannya serasa dicekik. Lalu, tempat tidurnya terguncang-guncang. Tiba-tiba, bel wekkerklok berdering keras sekali. Luar biasa keras. Disusul dering telepon. Keras sekali. Berulang-ulang.
Sesudah itu, loceng gereja di klokkentoren itu berkeleneng keras-keras. Disusul sirine meraung-raung. Tempat tidurnya terguncang-guncang dan semua deringan dan dentangan berbunyi bersama, memekakkan telinga. Dan Buzz terjaga. Ia lega. Lega sekali. Ternyata semuanya hanya mimpi. Perempuan yang sepertinya istrinya tidak ada lagi.
Hah, hah, hah. Ia terengah-engah. Puji Tuhan, turis-turis mesti tak tiba-tiba pulang. Kerusuhan kota itu tak ada. Ia hanya mimpi. Mimpi buruk. Tak benar itu.
Tapi di mana aku? Lho? Buzz kaget. Lho kok seperti ini rumahnya. Ia berdiri melihat ke luar jendela. Lho, pohori jambunya nggak ada. Ia meraba wajahnya. Lho, kok kumisnya nggak ada. Lho, kok ia mengenakan kortebroek, bukan sarung atau celana panjang. Ia membuka celananya dan meraba dalamnya. Lho, kok aku belum sunat?
Ia lari ke luar kamar. Persis seorang perempuan muda mau masuk. Mereka berpapasan di tengah pintu.
“Astaga. Baru bangun kamu. Ayo, cepat mandi. Itu kakak-kakakmu sudah menunggu di sumur.” Kata perempuan itu. Apakah dia ibunya. Kok muda banget.
“Ayo cepat. Kok bengong. Kayak Bagong plompang-plompong. Ayo.” Perempuan itu menarik tangannya kuat-kuat. Astaga. Ia melihat saudara-saudara sepupunya sudah pada bertelanjang bulat di sumur. Mereka mandi bersama-sama.
“Ayo lepas baju dan celananya,” Buzz menurut. Ia melakukan apa yang diminta perempuan itu. Kemudian, perempuan itu memerintahkan agar si Manyar mengguyurnya dengan air, seperti saudara-saudara sepupunya.
“Nih, sabunnya.” Perempuan itu memberikan sabun besar yang biasa untuk mencuci. “Yang bersih. Titit-nya disabun. Terus sikatan. Pakai arang dulu, seperti biasanya. Baru pakai gosok gigi. Lidahnya digosok sampai dalam. Mau muntah dikit nggak apa. Jangan banyak-banyak gosok giginya. Ini Kolinox, oleh-oleh oom Banto dari Nederland.”
Perintah perempuan itu bertubi-tubi. Buzz mulai mengenali kembali ibunya. Guyuran air sumur berkali-kali membuatnva benar-benar merasa terbangun. Ia mulai bicara-bicara dengan saudara-saudara sepupunya. Mereka ngomong tentang sekolah yang belum dibuka. Harus tunggu beberapa bulan lagi. “Kalau sekolah kamu malah sudah buka. Sekoah froebel,” kata Emon.
“Tapi bapakmu nggak boleh kamu sekolah. Bapakmu mau kasih pelajaran sendiri. Soalnya kamu suka takut kalau lihat guru bawa tongkat.”
Buzz hanya mengangguk. Itu memang benar bahwa ia takut. Tapi, ia bilang bahwa ketika bapaknya membawanya ke rumah Bu Har, guru froebel itu, ia senang. Cantik banget. Ada tahi lalat di dagunya. Sayangnya, Buzz masih terlalu kecil. Jadi, tidak benar kalau dikatakan bapaknya melarangnya sekolah.
“Tidak. Bapakku boleh kok. Cuma saja, mesti belajar menari juga sama pak de Ripto Magito-Gito…”
“Aku tak mau menari. Aku mau main sepakbola kayak Yasid. Yasid, Yasid … ye, ye, ya. ..“ Kakak sepupunya yang laki-laki menari-nari.
“Kamu pernah lihat sepakbola di stadion, apa?” tanya Buzz jengkel.
“Belum. Bapakku yang cerita kalau malam.”
Mereka selesai mandi. Lalu lari ke kamar masing-masing. Buzz ke arah belakang sumur, melewati dapur besar sekali. Ia kaget. Tampak beberapa perempuan sedang sibuk memasak. Ada Rabiyem, Maryuni, Sumar, Si Sri, Murwani, Bu Joyo, Ginah, Dilem. Siwuh, Kasinem, Tami Teles, Nantiyem.
“Cepet,” bentak perempuan itu lagi.
“Kok cepet-cepet terus.” Buzz mulai protes.
“Ibu mau bantu bikin tempe kering. Banyaaaak. Mau dikirim ke garis depan.”
“Garis depan apa itu?”
“Ah, tentara kita perang melawan Belanda. Nica mau masuk lagi.”
Buzz terdiam. Tiba-tiba ia ingat, Pak Joyo sering cerita tentang seorang lelaki ganteng, pintar, muda dan faseh ngomong banyak bahasa asing, namanya Bung Karno. Lelaki itu seperti tokoh dalam dongeng. Ia bisa membakar dengan kata-katanya. Ia sangat luas pandangannya karena bacaannya banyaaaak sekali. Ia masuk sekolah Belanda dan kemudian menghantam Belanda dengan ilmu Belanda.
Selesai tubuhnya dikeringkan dengan handoek, perempuan Wi lalu membedaki tubuhnya, terutama di jepitan-jepitan supaya tidak bau. Juga di bagian yang disebutnya “titit” itu. Buzz lalu diajaknya ke dapur. Begitu melihat Buzz, Sumar langsung mendekapnya dan menciuminya. Demikian pula Si Sri, Dilem, dan Tami Teles. Sambil menggoreng tempe mereka ngobrol tentang perang. Murwani menyebut-nyebut bahwa Mas Arzam kena tembak. Buzz kaget.
“Mas Arzam yang…“ Tanya Buzz.
“Ya. Yang biasa berteriak nyaring Allaahu Akbar pada waktu adzan maghrib dan subuh.”
Buzz terdiam. Dia sayang sekali kepadanya. Sebab, ia sering mendongeng banyak cerita kepada Buzz. Yang terakhir, sebelum berangkat ke garis depan, Mas Arzam cerita tentang pangeran Denmark. Sebelum itu, ia cerita kisah percintaan Omar Khayyam, yang ãlili ilmu bintang-bintang itu.
“Mas Arzam luka?”
“Ya. Tapi luka ringan.”
Buzz lega mendengarnya.
“Di mana letaknya garis depan itu?” Buzz tanya lagi.
“Banyak. Antara lain di Srondol,” jawab Sumar.
“Di mana itu Srondol?” Buzz mengejar.
“Wah, jauh sekali dan sini. Di sana, di arah Utara…” Tami Teles merentangkan lengannya menuding ke arah Utara.
“Mas Arzam melindungi temannya dan ia sendiri kena,” Si Sri menyambung.
Buzz tersentuh hatinya. Rasanya ia ingin lan dan mendekap lelaki yang sangat disayanginya. Ia ingin sekali menciumi tangan yang luka itu.
“Mas Arzam tidak akan mati, ya?”
“Tidak. Hanya luka sangat ringan,” Murwani menenangkan hatinya.
“Ia tak boleh mati.” Buzz menggumam. Tiba-tiba ia merasa tak tahan menahan desakan perasaannya. Ia lari dari dapur ke kamarnya. Ia ingin menangis di tempat tidurnya. Akan tetapi, begitu ia tiba di ambang pintu, Buzz melihat ayahnya sedang membaca majalah Pantja Raja.
“Dan mana kamu?”
“Dari dapur, yah.”
“Ibumu di sana?”
“Ya. Ia membantu memasak tempe kering.”
“Banyak ya?”
“Banyak sekali. Buanyaaaak sekali.”
“Bagus. Bagus. Nih, kamu sudah bisa baca ta?”
Buzz menggeleng.
“Dengar. Tanggal empat belas Januari lalu, Jatinegara dibakar serdadu Belanda. Enam ratus lima puluh keluarga kehilangan rumah. Saudara-saudara Tionghoa membantu penduduk yang kehilangan tempat tinggal.” Ayahnya membaca.
Buzz mendengarkan dengan takzim.
“Dengar lagi ini. Di kota Bogor, dan di beberapa kota lainnya di Jawa, Nica dan kaki-tangannya terus menerus melakukan provokasi.”
“Apa provokasi, yah?”
“Ya … pokoknya bikin desas-desus atau memancing-mancing biar keadaan keruh,”
“Nica itu Belanda, yah?”
“Ya. Jelas,” Ayah Buzz terus membaca.
“Ada yang lain, yah?”
“Nih. Dengar. Seorang pemimpin Angkatan Pemuda Indonesia, namanya Daan Anwar ditembak oleh Nica. Tapi tidak rnati, hanya matanya buta.”
“Wah, kok…”
“Ya, gimana lagi. Ini keadaan perang. Musuh kita Belanda. Kita harus bantu tentara kita yang bertempur melawan Nica. Dengar, ini lebih menarik. Dengar ya.”
“Ya, ayah.”
“Pcgawai-pegawai Indonesia yang bekerja pada Nica mengirimkan memorandum kepada pemerintah Belanda yang berisi pernyataan bahwa satu-satunya jalan untuk memecahkan masalah Indonesia adalah pengakuan pemerintah Belanda atas Republik Indonesia.”
“Maksudnya gimana, yah?”
“Begini. Kita kan sudah merdeka. Tapi, pemerintah Belanda be1um mengakui. Karena itu bikin rusuh terus. Nah, pegawai-pegawai itu mendesak agar pemenintah Belanda mengakui. Kalau sudah mengakui bahwa negeri kita berdaulat kan dengan sendirinya tidak mengacau lagi.”
“Belum jelas, yah. Tolong diterangkan lagi, yah.”
“Ah, kamu. Nanti saja. Ayah mau mandi dulu.” Ayahnya melemparkan tumpukan majalah-majalah.
“Sebentar, yah. Satu lagi saja. Ini apa yah.”
“Ah…“ Ayahnya mengambil majalah yang dibaca Buzz. “Dengar ya. Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohamad Hatta hijrah ke Yogyakarta untuk menyelamatkan diri dari tindak kekerasan yang semakin meningkat di Jakarta. Cukup?”
“Sebentar yah. Jakarta rusuh, ya. Dikacau Nica?”
“Iya. Ah, kamu. Sudah, ayah mau mandi dulu.”
Buzz terdiam. Ia membayangkan Mas Arzam yang luka. Darah tampak di matanya. Lalu terdengar bunyi tembakan senapan, ledakan granat dan bahkan bom. Buzz tak tahan. Ia meloncat ke tempat tidur dan membenamkan wajahnya di bawah tumpukan bantal. Tiba-tiba, bel wekkerklok berdering lagi. Juga lonceng gereja berkeleneng dengan keras. Lalu disusul dening telepon yang luar biasa keras. Sesudah itu, tempat tidurnya terguncang-guncang. Buzz berteriak-teriak. Kakinya terasa ada yang memegangi. Ia terbangun. Tampak perempuan berdiri di depannya.
“Bangun. Mimpi apa lagi?” tanya perempuan itu.
Buzz memandanginya.
“Kamu ini gimana sih. Aku ini istrimu.”
“Sebentar. Jangan main-main, kamu. Dengar: Sjahrir diculik.”
“Apa?” Istrinya bengong.
“Nica membom. Mas Arzam kena tangannya. Tapi tempe keringnya kan sudah dikirim semua?”
“Pak, bangun, Pak.” Istrinya mengguncang tubuh Buzz.
“Yang aman Yogya. Pemenintah pindah ke Yogya,” kata Buzz.
“Nggak. Masak bapak lupa, kan ada bom meledak di rumah sakit,” kata istrinya.
“Di mana? Di Yogya?”
“Iya.” Istrinya menegaskan.
“Itu pasti Nica. Paling tidak, antek-angek Nica. Kalau tidak, mana mungkin mengacau kita. Mereka belum mengakui kemerdekaan kita. Makanya ngaco terus. Kurang ajar itu. Nica itu. Jelas. Nica membom. Nica.”
“Pak, bangun, Pak.”
“Nica. Kurang ajar itu. Nica, Nica. Kita hanus bersatu melawan Nica. Siapkan bambu runcing.”
“Pak, bangun, Pak. Ah, gimana ini.”
Istni Buzz bingung. Ia berdiri di depan pintu dan berteriak sekuat tenaga, “Toloooong. Toloooong. Tolooooong.”
“Ya. Toloooong. Toloooong. Nica membom. Nica menculik. Nica membuat provokasi. Kata Sukarno, kita harus bersatu melawan Nica. Bersatu, bersatu, bersatu…!”
Orang-orang kampung mulai berdatangan mencoba menenangkan Buzz. Ada yang punya ide mau memanggil ambulans. Yang lain usul agar segera menghubungi dokter Akar Poteng yang ahli syaraf itu. Buleneng berpikir lain lagi. Ia menilai bahwa Buzz kemasukan roh jahat. Oleh karena itu, orang harus segera membakar kemenyan. Demikianlah, malam itu, rumah Buzz niuh rendah.
Baru kira-kira menjelang pukui dua belas tengah malam lelaki itu tenang dengan sendirinya. Ia terengah-engah. Mula-mula, kepalanya disandarkan pada tembok. Kemudian ingin bersandar pada bahu istninya. Tangan Buzz meraba tangan istrinya.
“Kamu istriku, kan”
“Iya, sayang.”
Orang-orang kampung tersenyum-senyum melihat adegan romantis itu.
“Aku lapar. Tolong ambilkan tempe kering sedikit saja. Mintakan pada Sumar, Si Sri atau Maryuni…”
“Tempo kering apa?” Istrinya bengong lagi.
“Di dapur. Dikit saja. Tempe kering yang mau dikirim ke garis depan.”
“Garis depan apa? Bangunlah, Pak, aku mohon. Istrimu bingung. Lihatlah bapak-bapak yang pada datang malam-malam begini. Bangunlah, Pak, bangun.” bujuk istrinya mulai berlinang air matanya.
“Ya, Pak. Nyebut, Pak, nyebut.” bujuk Arwan.
“Tempe kering, bom, ganis depan, tempe kering, bom, garis”
“Ingat Tuhan, Pak, nyebut sebisanya.”
“Bom, tempe kening, garis depan, Nica kurang ajar…”
Demikian seterusnya. Tak begitu jelas beritanya, apakah Buzz begitu terus hingga pagi. Kalau ia benar-benar terjaga, ia juga akan mendengar benita born beneran, perkelahian, perpecahan di mana-mana. Kalau ia tidur lagi, ia bertemu lagi dengan masa kanaknya pada zaman revolusi.
“Sepertinya, de kiok achteruit zetten,” kata Pak Ramelan, mantan guru pada zaman Belanda.
Orang kampung memandangnya karena tak paham maksudnya.
“Maksud saya, jam diputar kembali ke zaman lampau.” Ia menjelaskan. Tapi Pak Ramelan tidak menerangkan apakah seluruh situasi yang diputar kembali ataukah hanya jalan pikiran Buzz.
“Ceritanya memang bergerak ke depan, tetapi plotnya mundur,“ tukas Pak Imran, seorang ahli sastra terkemuka di kampung itu. (***)