Blogroll


ShoutMix chat widget

Work Hard

Go to Blogger edit html and find these sentences.HOSHI LES PRIVATE BAHASA ASING. ALAMAT. JL. IKAN ARWANA Q16 MALANG.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

CHASSIS GOLDEN DRAGON, MESIN YUUCHAI 300HP.

This is default featured post 5 title

AKAS IV PARIWISATA

Tampilkan postingan dengan label CERITA SAHABAT about LIVE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA SAHABAT about LIVE. Tampilkan semua postingan

26 Mar 2010

OBROLAN SENSEI & GAKUSEI di SMA

Kadang-kadang kita ditanya ”Sudah berapa lama menjadi guru”? Pasti jawaban kita bermacam-macam. Ada yang lebih dari 25 tahun mengabdi sebagai pendidik. Ada yang di atas 10 tahun telah berkarya di dunia pendidikan. Namun ada juga yang baru menapaki jalan sebagai seorang guru. Berapa lamanya kita menjadi pendidik, sebenarnya bukan hal yang terlalu penting untuk dibahas apalagi dipermasalahkan dan diributkan. Bagiku, seseorang yang sudah berkomitmen untuk menjadi seorang guru atau dosen atau apalah namanya, entah baru mulai atau sudah menjadi senior, adalah seseorang yang dengan SADAR dan RELA untuk membagi ilmu kepada orang lain di manapun dia ditempatkan.

Namun dalam perjalanannya, tidak sedikit para guru yang mengalami frustrasi karena situasi dan perlakuan yang mungkin kurang mengenakkan dari lingkungan sekitar. Lingkungan itu bisa berwujud kondisi sekolah tempat mengajar (hubungan dengan sesama guru, murid, maupun dengan atasan yang kurang harmonis dan kurang menunjang keberadaannya) maupun masyarakat sekitar tempat tinggal sang guru.

Saya hanya ingin berbagi pengalaman yang pernah saya rasakan di awal perjalanan saya sebagai pendidik. Mengajar pertama kali secara resmi di sebuah sekolah SMA di Surabaya, ketika saya belum genap berusia 20 tahun. Yang dimaksud secara resmi di sini adalah status saya sebagai guru tidak tetap alias GTT di SMA tersebut, bukan sebagai pengajar ekstrakurikuler. Tetapi guru mata pelajaran (bidang studi) bahasa Jepang yang waktu itu diajarkan di jurusan Bahasa dengan waktu 9 kali tatap muka per minggu! Dengan gaji pertama saya sebesar Rp 72.000,-. Sekali lagi, 72 ribu RUPIAH, bukan YEN! Saya syukuri gaji sebesar (sekecil?!) itu sebagai berkat dari Tuhan. Saya bisa hidup di kota besar Surabaya! Sekalipun tahun-tahun itu adalah masa-masa krisis ekonomi panjang yang melanda Indonesia. Singkat cerita, tahun kedua di sekolah itu, saya dipercaya sebagai wali kelas jurusan Bahasa yang lengkap dengan lebel ”kelas anak-anak bandel, anak-anak buangan yang tidak mampu berprestasi” . Fenomena yang banyak kita dapati di mana-mana. Tapi.....apa iya mereka - mereka seperti yg dilabelkan oleh banyak orang tersebut????????????? 

Banyak pengalaman kurang mengenakkan yang saya alami walaupun tak sedikit juga berkat dan prestasi yang saya terima selama mengabdi sebagai guru SMA. Salah satu kejadian menggelikan ketika awal interaksi dan adaptasi di SMA. Beberapa murid yang memang usianya terpaut sedikit dengan saya, tak jarang meremehkan saya sebagai guru baru yang tidak punya pengalaman apa-apa, belum lagi senyum sinis yang ditujukan kepada saya karena saya memang lebih tepat menjadi teman bermain mereka atau teman sekelas mereka dibanding menjadi guru apalagi pembimbing mereka! Bila anda mengalami seperti saya, haruskah mundur dan memilih sekolah lain? Mundur bukanlah suatu pilihan yang tepat. Kalaupun kita memutuskan mundur atau keluar karena suasana yang tidak bersahabat, pasti di tempat ”pelarian yang baru” pun akan kita jumpai fenomena yang sama dengan versi berbeda yang bisa saja akan lebih parah daripada sebelumnya. 

Saya harus menentukan sikap dalam menghadapi murid yang berpandangan demikian. Berikut adalah langkah yang saya ambil:
1) Pertama, saya harus menyadari bahwa keberadaan saya di SMA ini adalah sebagai guru. Bukan kerjaan sambilan apalagi ’pilihan terakhir”. 
2) Kedua, saya menjadi guru karena memang saya mempunyai ilmu yang telah cukup untuk mengajarkan mata pelajaran yang sesuai dengan bidang dan keahlian saya. Jadi tidak ada alasan untuk minder atau takut ditolak hanya karena masalah usia dan pengalaman yang kurang.
3) Ketiga, saya berpedoman pada ajaran alam: orang dikatakan berpengalaman kalau dia telah benar-benar mengalami masalah yang sulit dan mau berusaha mencari penyelesaian atas masalah tersebut, dan bukan melarikan diri dari problem itu.

Peribahasa ”Tak kenal maka tak sayang” memang benar adanya. Bagaimana siswa atau murid saya mengasihi dan menuruti apa yang saya mau kalau mereka tidak mengenal saya? Bagaimana mereka mau mengenal saya kalau saya tidak lebih dulu mau mengenal mereka? Bagaimana mungkin kami bisa bekerja sama dalam PBM (proses belajar mengajar) kalau mereka tidak diberitahu bagaimana memulai sesuatu dengan rendah hati? Di sinilah ketahanan kita diuji dan dipertaruhkan. Kadangkala kita menjadi enggan karena merasa harga diri kita diremehkan dan sebagainya.

Saya ajak mereka untuk berbicara sebagai teman. Ya, sebagai teman! Karena dalam pikiran mereka, saya pada usia itu lebih pantas menjadi teman mereka. Berkorban sementara waktu, nggak apa-apa ’kan? Sepanjang hal itu tidak membuat kita sakit jantung dan mati mendadak. 

Kebetulan ada beberapa murid yang ikut dalam klub karate. Saya berusaha untuk menunjukkan minat dan antusias yang tinggi sewaktu mereka bercerita tentang klub karate mereka. ”Sensei, tau nggak? Klub karate tempat aku latihan itu, muridnya hebat-hebat lho! Seorang ’senpai’ ku masih berumur 17 tahun tapi sudah menyandang sabuk hitam dan II. Gile nggak, sensei?!” ucapnya dengan nada bangga. Sebetulnya murid tersebut sudah tahu jawabannya. Hanya saja dia tidak sadar akan apa yang dia ucapkan.

Saya mulai masuk melalui cerita mereka. Kata ’senpai’, ’sensei’ tidak asing bagi mereka yang belajar beladiri karate, kendo, aikido, kenpo yang berasal dari Jepang. ”Tahukah kalian, apa yang dimaksud SENPAI atau yang kau kenal dengan istilah senior? Senpai ( 先輩 ) dilihat dari huruf kanji pembentuknya, terdiri dari 2 kosakata: SEN ( 先 ) yang artinya lebih dulu, dan HAI atau PAI (輩 ) yang artinya punya posisi atau kemampuan. Jadi, yang kalian sebut sebagai SENPAI adalah orang yang lebih dulu mempunyai posisi atau kemampuan tertentu lebih dulu dari pada kemampuan yang kalian miliki saat ini. Kalian tetap mengakui keberadaannya sebagai Senpai atau senior kalian walaupun dia baru berumur 17 tahun ’kan? Mau atau tidak mau memang kalian harus mengakuinya. Di dalam falsafah karate yang juga kalian pelajari dan harus kalian pegang teguh, di sana juga mengajarkan untuk MENARUH HORMAT terhadap senior anda”. Mereka manggut-manggut mendengar ulasan saya.

Sekarang mulailah saya masuk lebih dalam kepada inti persoalan yang selama ini menjadi tembok pembatas antara saya dan murid-murid tersebut. ”Begitu juga dengan saya sebagai guru atau sensei kalian. Seorang dipanggil sebagai SENSEI karena sudah melewati proses untuk menjadi seorang pendidik, walaupun di tengah perjalanannya masih harus diuji dan disempurnakan lagi keilmuannya. Tetapi yang jelas, seorang GURU yang kalian panggil dengan sebutan SENSEI juga terlahir dari 2 suku kata yang masing-masing mempunyai arti : SEN ( 先 ) yang artinya LEBIH DULU, SEI ( 生 ) artinya LAHIR. Jadi, 2 kosakata yang ditulis dengan huruf kanji itu mempunyai makna yang sangat dalam. SENSEI berarti seseorang yang lahir lebih dulu atau seseorang yang lebih tua. Maksudnya adalah: orang yang lahir lebih dulu ilmunya. Tidak peduli orang tersebut usianya masih di bawah kita atau bahkan sama dengan kita. Adalah sikap yang sangat bijaksana, luhur dan terhormat, bila kita bisa menempatkan segala sesuatu pada tempat yang tepat. Kalian mengerti apa yang saya maksud ’kan?”.

Tanpa bermaksud menyombongkan diri, saya juga harus percaya diri bahwa walau usia saya boleh dikatakan sebaya dengan mereka waktu itu, namun saya adalah guru mereka. Saya tidak akan membiarkan mereka merusak aturan dan tidak menaruh hormat kepada seorang pendidik. Kalau mereka meremehkan saya hanya karena saya masih dianggap muda dan kurang pantas, tentu suatu saat mereka juga akan meremehkan para pendidik lain dengan alasan kurang pintarlah, kurang kreatiflah, kurang ini itulah dan sejuta macam alasan untuk pembenaran diri yang kerapkali kita dengar. 

Pembicaraan dari hati ke hati yang berlangsung sangat santai itu ternyata mampu merobohkan dinding pemisah dan meruntuhkan kesombongan murid-murid tersebut. Dan memang akhirnya mereka dengan segenap kerendahan hati belajar untuk mengakui saya sebagai guru mereka. Dan saya juga harus membalas jabat tangan mereka yang menginginkan saya menjadi guru sekaligus sahabat untuk maju bersama-sama. 

Itulah pengalaman indah bersama para murid di SMA, bahkan ada satu kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hayat. Murid-murid saya, sebut saja B A, H, F, R, M , A, V, W, E, D berikrar untuk membawa kelas jurusan bahasa SMA mereka untuk meraih predikat YANG TERBAIK. Pertama saya sempat heran....nggak salah tuh anak-anak?! Tapi itulah kenyataannya. Tak ada alasan untuk berkata tidak. Maka saya dan mereka membuat janji untuk tampil beda! Melupakan segala yang pernah terjadi di masa lalu. Sejak itu kami menjadi satu tim. Bekerja keras, berlatih dengan tekun untuk satu tujuan: menunjukkan eksistensi kelas jurusan bahasa supaya diakui keberadaanya. Bukan diakui kenakalannya, tapi kami juga ingin menorehkan sejarah bagi sekolah kami.

Suatu event di bulan Maret 2000. Kami ikut dalam kompetisi bahasa Jepang untuk pelajar SMA se Jawa Timur yang diselenggarakan oleh sebuah universitas ternama di Jawa Timur yang mempunyai jurusan bahasa Jepang. Dari 8 lomba yang dipertandingkan di hari Minggu itu, siswa-siswa kami menyapu bersih juara 1 dan 2 untuk semua lomba yang diadakan dan dinobatkan sebagai juara umum. Rasa bangga dan haru bercampur menjadi satu. Gelak tawa mereka sempat saya dengar ketika waktu itu wartawan mewawancarai mereka dan menanyakan siapa pembimbing mereka. Sang wartawan juga terkejut waktu melihat saya yang mendampingi mereka bertanding tak ubahnya seperti murid-muridku yang bertanding hari itu. Keraguan dan rasa tidak percaya sempat terlontar dari para wartawan itu. Saya tidak ambil pusing. Karena itu sudah di luar urusan saya.

Hari Minggu yang panas berubah menjadi persahabatan indah yang mempersembahkan piala kemenangan dari ”anak-anak bandel kelas bahasa” yang berusaha untuk mengharumkan nama sekolah melalui bahasa Jepang yang mereka tekuni.

”Sensei, Anda memang akan menjadi sensei kami sampai kapanpun. Anda telah mengajarkan kepada kami untuk menghargai seorang guru. Anda jugalah yang mengakui kami apa adanya sebagai saudara dan teman yang penting bagi Anda, dan terima kasih telah mempercayai kami bahwa kami mampu melakukan yang terbaik, di saat banyak pihak meragukan kemampuan dan keberadaan kami. ” itulah ucapan B A yang aku rekam baik-baik dalam otakku. 

Teman-temanku yg terkasih, janganlah kita menjadi rendah diri hanya karena merasa kurang berpengalaman. , dan juga janganlah kita merasa patah semangat hanya karena sudah lelah atau merasa "tidak nutut" alias merasa ketinggalan teknologi modern. Hal itu bisa diatasi selagi kita mau. Saya pun juga belajar (tepatnya; DIAJARI) dari mahasiswa dan para murid tentang banyak hal yang berhubungan dengan teknologi komputer. Para mahasiwa dan murid-murid itu juga merupakan guru saya. Dan kepada murid-murid terkasih, janganlah merasa pintar dan enggan mengakui keberadaan gurumu hanyalah karena dia atau mereka masih muda dan kurang pengalaman. Mari kita ingatl kembali masa lalu ketika kita ”masih belum bisa apa-apa”. Janganlah menjadi orang pintar tapi tidak bermoral dan tidak tidak punya kasih. MENGHORMATI PEMBIMBING KITA adalah salah satu bentuk dari KASIH YANG NYATA. 

Saya masih ingat saat embah, engkong, kakek saya mengajarku untuk BERBAGI DAN SALING MELENGKAPI DENGAN RENDAH HATI......ternyata memang bauhnya, eh buahnya sangat manis untuk dirasa dan dikenang ...bahkan untuk dibagikan kembali !!

Saya memang tidak cukup pengalaman ketika mengajar di SMA, tetapi Tuhan mengizinkan saya mengalami proses kedewasaan bersama-sama dengan murid-murid saya. Di mana saya harus meredam amarah dan emosi ketika jiwa saya bersinggungan dengan murid-murid yang juga sama emosinya dengan saya waktu itu. Terima kasih Tuhan, untuk pengalaman indah ini. Terima kasih kepada suster kepala sekolah yang memberikan padaku "tempat bermain dan belajar" serta mempercayakan pengasuhan murid-murid kepadaku tanpa sedikit ragu walau aku belum mampu waktu itu. Terima kasih kepada murid-muridku SMA......memang betul, nggak ada loe nggak rame, nggak mengenal kalian sebelumnya....saya juga tidak mungkin mewarnai hidupku. Saya menulisnya karena tiba-tiba terkenang masa-masa mengajar di SMA di Surabaya. 


Tokyo, 2010年3月13日(土曜日)
By; Baby Anis Karyawati
Pengganti waktu mblakrak yg nggak jadi kulakukan karena angin ribut di luar.

[ SECANGKIR TEH PANAS UNTUKMU ]

Untuk mantan murid-murid SMA di Surabaya & Malang
serta mahasiswa yg pernah melewatkan waktu bersamaku di Malang



Alangkah nikmatnya secangkir teh panas! Entah itu teh manis atau teh tawar. Apalagi bila meminumnya saat hujan. Suatu ritual yang sangat eksotik dan melegakan bagi setiap kenikmatannya! Kapan kita minum teh? Pagi? Istirahat siang? Menjelang senja? Yang pasti, secangkir teh tak kan protes kapan pun kita mau minum. Kadang kita menikmati secangkir teh di rumah bersama keluarga, sebelum memulai aktivitas harian. Atau mungkin kita menikmatinya di kantor yang disediakan oleh ”petugas khusus” sebelum mulai bekerja”Di mana kita minum secangkir teh dan bersama siapa” memang tidak perlu dijawab, tapi mari kita renungkan. Pernahkah kita mengajak anak didik minum teh bersama? Pernahkah kita membuatkan secangkir teh untuk mereka? Pasti jawabannya TIDAK PERNAH atau YA PERNAH tidak peduli berapa besar prosentase pernahnya.


Suatu hari, saya mengajak murid melakukan hal yang tidak biasa di kelas, yaitu minum teh bersama. Saat itu, saya memang ingin membuat teh untuk mereka. Tapi hal itu bukan untuk mencari perhatian!! Entah kenapa, saya memang benar-benar ingin membuatkan teh untuk mereka. Dan yang jelas, mereka tersenyum heran ketika saya katakan, ”Douzo, nonde kudasai!” (silakan minum) sambil saya sodorkan secangkir teh panas untuk mereka. ”Sensei (demikian mereka memanggil saya), ada yang istimewa ya hari ini? Tumben! Ini waktunya pelajaran pula.... Sensei ulang tahun ya?”


Belum hilang rasa heran mereka, saya membuat teh lagi. Tapi kali ini saya mengajak beberapa orang untuk membuat bersama-sama. Membuat teh! Tepatnya, melihat aktivitas saya menuangkan air mendidih pada daun-daun teh kering di dalam gelas dan mengamatinya sambil menunggu teh itu siap diminum (karena orang Indonesia tidak terbiasa minum teh atau kopi dalam keadaan panas-panas). Saya ingin mereka ikut mengamati proses perubahan warna air mendidih yang telah mereka tuangkan dalam gelas masing-masing. Hanya itu. Sederhana ’kan?


Saya juga menuangkan ”air yang lain” ke dalam gelas lain yang berisi daun-daun teh kering. Saya katakan, ”Saya juga ingin minum teh yang sama dengan kalian. Teh kalian yang telah dituangi air mendidih, benar-benar mempunyai rasa teh! Sedangkan teh saya yang dituangi air hangat atau hampir dingin, tidak berasa teh seperti yang saya harapkan.


Mereka mulai mengamati sendiri, hingga akhirnya sampai pada suatu kesimpulan yang mereka buat: ”Benar ya Sensei, bahwa kekuatan teh yang sebenarnya akan muncul kalau dituangi air mendidih. Teh milik Sensei hampir tidak menyerupai teh walaupun daun-daun teh yang kita gunakan sama. Teh kami enak, tapi teh Sensei tidak ada rasanya”. Itulah ucapan jujur mereka.


Saya tidak pandai berteori dan menciptakan kata-kata bijak untuk mahasiswa atau murid saya. Tetapi saya suka menyampaikan konsep pembelajaran dari alam, yang sangat sederhana, mudah dipahami dan diterapkan. Hal ini dilakukan untuk memberikan keseimbangan antara perkembangan nilai akademik dengan perkembangan pribadi pembelajarnya. Hal ini dipandang perlu dilakukan karena melihat banyaknya ketimpangan yang terjadi pada dunia pendidikan yang seakan sulit sekali ditanggulangi. Diantaranya adalah cara-cara tidak jujur (nyontek), mau menang sendiri, menyukai jalan pintas tanpa kerja keras dan kerja smart tetapi ingin mendapatkan hasil akhir yang bagus. Walau sebenarnya mereka tahu bahwa ”No pain no gain” adalah benar adanya, namun untuk mengaplikasikan peribahasa Inggris tersebut dalam kehidupan sehari-hari masih sangat sulit bagi sebagian orang.


Dalam perjalanannya, tidak sedikit mahasiswa atau siswa yang beranggapan bahwa pendidikan bahasa Jepang di sekolah maupun universitas sarat dengan shukudai (pekerjaan rumah) dan sangat melelahkan. Meskipun jerih payah itu telah membawa hasil bagi mereka, namun fenomena ’sulit dan melelahkan’ seakan menjadi ’pakaian satu-satunya’ yang enggan mereka lepas. Pengenalan konsep pembelajaran dari alam adalah salah satu alternatif untuk mengubah paradigma tersebut.



Apa moral yang terkandung dalam proses pembuatan teh untuk untuk diminum di kelas? Sebenarnya hal tersebut mengajarkan secara langsung kepada anak didik kita tentang konsep hidup yang sederhana namun sarat makna. Daun-daun teh itu adalah kita. Air panas mendidih adalah tempaan hidup dan perjuangan yang keras. Dituangi air panas identik dengan didikan yang keras dan tidak nyaman (bagi banyak orang) sehingga kita terus ’menggeliat’ seperti daun teh yang dituangi air mendidih itu. Menggeliat dan terus berkembang terus berkembang hingga benar-benar menyerupai apa yang disebut sebagai teh (baca: kemampuan) yang sebenarnya. Maksudnya : bila kita ingin berhasil, harus MAU dan RELA dididik dan ditempa.


Bagaimana dengan daun teh yang dituangi air hangat atau dingin? Air dingin ibarat hal-hal yang menyejukkan dan enak untuk dirasakan. Seperti halnya ’zona kenyamanan’ kita yang enggan kita tanggalkan sejenak demi meraih keberhasilan nantinya. Mahasiswa atau siswa yang enggan berusaha ’ekstra’ untuk kemajuannya sendiri, dia tak ubahnya seperti orang yang ’jalan di tempat’. Tidak akan pernah berhasil walaupun dia mempunyai segudang ”benih-benih” yang menjadi cikal bakal keberhasilan mereka.


Mengamati kejadian tersebut, saya dan mereka menyepakati suatu kesimpulan bahwa ”Kekuatan TEH yang sebenarnya akan muncul, HANYA bila dituangi AIR PANAS MENDIDIH”.


Rekan-rekan mahasiswa dan murid-muridku yg terkasih, yuk kita menjadi seperti teh yang diseduh air mendidih, yang akan menunjukkan rasa teh yang sebenarnya. Sedangkan teh yang diseduh dengan air dingin, dia tak berubah warna dan rasa. Yuk kita belajar secara sadar, lebih giat dan smart hingga mampu menunjukkan kemampuan Anda yang sesungguhnya. Tuhan menciptakan Anda luar biasa adanya. Bukan nilai yang harus kita cari, tapi bagaimana Anda dan saya memaknai apa yang kita lakukan. karena nilai adalah sebuah BONUS dari apa yang telah kita kerjakan.
Selamat belajar!


Baby Anis - Koran Pendidikan (26 Nopember 2008)
Tokyo, 2010年3月21日(土曜日) - 編集


MENGAPA KITA BEKERJA ?

Untuk apa kita bekerja?

Apa kita bekerja untuk makan? Atau kita makan untuk bekerja? Semua orang bekerja. Menanggung lelah; menahan jengkel; memeras pikiran; mengucurkan keringat; menghabiskan tenaga; membanting tulang dari pagi sampai sore.... Lihat Selengkapnya

Bayangkanlah paramedis di UGD yang seharian berdiri menunduk menjahit robekan tubuh korban yang mengerang kesakitan karena ususnya terburai. Atau seorang masinis kereta api yang pukul tiga pagi sudah menyalakan tungku batu bara lokomotif. Atau bahkan bayangkan pekerjaan seorang ibu rumah tangga, yang tak pernah ada habisnya. Untuk apa mereka bekerja? Untuk apa kita bekerja?

Kita bekerja untuk mendapat nafkah. Sesempit itukah tujuan kerja? Apa hidup ini hanya bertujuan untuk mencari nafkah?

Kita adalah makhluk yang lebih dari sekedar punya mulut dan perut tok. Kita memiliki martabat dan hati nurani. Martabat diri itu tidak akan terwujud dengan hanya ongkang kaki. Karena itulah kita bekerja. Dengan bekerja diri kita diaktualkan. Dengan bekerja diri kita jadi berarti dan memberi arti.

Punya arti dan memberi arti bisa dilakukan tiap orang, betapa pun ?kecil? pekerjaannya. Yang diperbuat seorang penjaga pintu lintasan kereta api bukan sekedar menjaga pintu kereta, tapi menjaga puluhan nyawa manusia. Yang diperbuat ibu bukan sekedar menyiapkan nasi, melainkan menyiapkan masa depan anak-anaknya.

Setiap orang perlu bekerja. Sebab itu, yang diberikan Tuhan kepada Adam pertama-tama adalah pekerjaan, bukan istri. Belajarlah dari semut, yang bekerja dengan rajin dan tekun, tidak banyak bicara dan tidak egois. Kerja adalah ibarat senar gitar. Terlalu kencang dia putus, terlalu kendor malah tidak bunyi.

Kita bekerja karena Tuhan bekerja. Tiap pagi Tuhanmembangunkan surya. Tiap petang Ia menidurkan senja. Ia meniup awan. Ia meneteskan hujan. Ia menghidupkan indung telur. Ia menghembuskan napas kehidupan ke jabang bayi. Ia mengajar ikan berenang. Ia mengawasi merpati yang terbang kian kemari.

Ketika kita bekerja, Tuhan berada di dekat kita. Sekali-kali ia menoleh kepada kita. Ia tahu bahwa kita letih. Ia juga letih. Ia pun mengangguk kagum melihat kita saat mengerjakan tugas dengan ketekunan.
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan…”

Kita bekerja karena hidup ini mempunyai arti. Kita bekerja supaya hidup ini memberi arti. Hidup ini Cuma sekali. Sekali berarti sesudah itu mati. Pertanyaannya, apakah hidup kita sekarang ini sudah memiliki arti dan memberi arti?

Selamat bekerja. Selamat berkarya. 
Tuhan memberkati

OLEH: BRURIONO SUSANTO RAHARDJO

24 Mar 2010

WAKTU

Tak terasa WAKTU cpt berlalu...

Dulu smw pialang saham,kryawan srta presdir,dkk ribut memikirkn bgmn menghadapi thn 2000 yg dl dkenal dgn Y2K..
Tp itu 10 thn yg lalu...

Memang WAKTU terus b'jln,tiada b'henti....

1 p'tanyaan yg HARUS djawb...

sudahkah qta memanfaatkn WAKTU yg ada?
Sudahkah qta memanfaatkn KESEMPATAN yg ada?
Sudahkah qta menempatkn diri qta jd LEBIH B'MAKNA?

Apalah artinya jika qta bangga menuliskn sbuah kata2 yg d'jadikan sbg prasasti emas namun itu smw akn m'hancurkan harkat & martabat manusia?

WAKTU memang terus b'jalan..
Sisa WAKTU memang masih panjang...

1 milenium
1 thn
1 bulan
1 minggu
1 hari
1 jam
1 menit
1 detik
bahkan 0,0001 detik
SANGAT BERHARGA....

Coba qta renungkan...
Apa artinya 1 milenium bg qta?
Cb tanyakn pd para ahli dunia,yg mengubah khdupan qta slm 1 milenium ini...

apa artinya 1 thn bg qta?
Cb tanyakn pd para ibu yg melahirkn anak2nya dgn kndsi prematur...

Apa artinya 1 bulan bg qta?
Cb tanykn pd presdir yg mengamati laju perushaanx trus menerus...

Apa artinya 1 minggu bg qta?
Cb tanykn pd editor mjlh mingguan yg hrs menepati deadline...

Apa artinya 1 hari bg qta?
Cb tanykn pd buruh kasar yg d'upah harian dgn menanggung beban anggota klrga yg ckp banyak...

Apa artinya 1 jam bg qta?
Cb tanykn pd pasangn kkasih yg dmabuk asmara,menunggu cintax datang menjemput...

Apa artinya 1 menit bg qta?
Cb tanykn pd pilot yg akn mendaratkn pesawatnya dgn bhn bkr yg t'batas...

Apa artinya 1 detik bg qta?
Cb tanykn pd org2 yg HAMPIR mjd korban tabrak lari...

Apa juga artinya 0,0001 detik bg qta?
Cb tanykn pd valentino rossi ato M.Schumacer ktika mrk hrs b'adu cpt dgn lawan yg b'ada tepat dblkg mrk...

WAKTU SANGAT SINGKAT..
sudahkah qta memanfaatkn WAKTU dgn baik?

KESEMPATAN HANYA DATANG 1X SAJA...

KESUKSESAN = KESEMPATAN + KESIAPAN

kapan WAKTU nya?
Tanyakan pada diri anda masing2..

Semoga di taon yg baru,qta bs menuju 1 impian yg qta harapkn & tidak menyia2kn WAKTU yg ada di dpn qta sedetik pun


(inspirasi dr GBT-KP 31/12/09)



dari cerita Prima JEffriandy 

HANYA ORANG TERTENTU YANG BISA MEMBACA MAKSUDKU

Jarum jam menunjukkn wktu 04.00 =)
di tengah gaung lawatan utk b'doa..
Mmbwtq utk kmbli introspeksi dlm ketenangan itu..

Mgkn bg ss'org ada yg b'usha dtutupi dlm p'jln'n hdpx...
"ya,q tw..G smw org bs tw khdpn pribdi org læn" pikirq..

Tp apa arti dr smw tabir kekosongan itu?
Atau kah hanya skdar rumbai bunga di pinggir bagian perasa saja?

S'org anak yg tak tw bgmn laut hanya m'gambarkn sm spti pasir yg ad di pantai..
S'org anak yg tak tw bgmn manusia hanya m'gambarkn sm spti org t'dekatx,tp dy tdk tw apa2 ttg smw itu..

Mgkn slm nie banyak org m'gali informasi bhkn smp k wilayah yg tdk dketahui..
Apalah arti informasi dr sgla penjuru bumi klo itu hanya cukup utk membengkokkan pohon klapa yg menjejak tegap?
Bknkah lbh bæk mmbiarkn pohon itu tetap tegap smp qta tw bhwa suatu saat dy akn merunduk & mmberi buahx?

Sdalamnya hatiq KAU pun tw..
Dan kasihMU tak jauh dr jiwaku..
Di Dlm kesesakan..
Di dlm kebenaran..
Ku tw Engkau sll brsamaq..

Hmpr selama q ada..
Q hidup brsama dgn pmbicara2 yg ulung..
Q hidup brsama dgn pembaca masa lalu yg hebat..
Bhkn pmikirannya pun msk bagai angin semilir,mmbelai jiwa yg gundah tp mencabut apa yg ada ddlm sanubari...

Jantung b'degup tnpa dminta..
Jantung b'hnti pun tnpa dminta..
Daging yg ta b'tulangpun kdg2 dpt b'gerak tnpa dsadari bhkn lbh dahsyat efekx dr skedar utk membunuh khidupan tp kepercayaan..

Q memang hanya s'org manusia yg ta luput dr dosa..
Mulut bs menutupi smw yg tmpak dr luar...
Tetapi mata,hati & pkrnq g bs mnutupi apapun yg kluar dr dlm krna itu yg ssungguhx tjd..

AKU..
Hidup di dlm patokan2 wilayah..
Hidup di dlm dærh ranjau..
Hidup di dlm kerasx cambuk malaikat..
Hidup di dlm padasx kayu b'silang..

Hanya utk memanggul kayu itu q harus mmbuang apa yg q ingin kn oleh mata..
Mataq,hatiq,pikiranq & k'inginanq bagai rmh serangga dlm tanah yg padat..
Tidak pernah ada 1 titik pasti utk keluar dr labirin itu..

Hanya 1 sosok yg tw..
Q pun hanya utk 1 sosok...
Q b'jln hanya dgn 1 lilin demi m'cari pintu kluar kkosongan..
Hanya demi 1 sosok itu..

Ktika qta mncari akn lbh baik bila lgsg pd tujuanx..
Akan jauh lbh bæk drpd b'mæn2 di bayang2 ktegaranx...

Kuatkn hatimu...
Kuatkn pikiranmu..
Kuatkn kyakinanmu..
Klo apa yg kau temui adalah jln buntu..
Bebaskn hatimu..
Bebaskn pikirnmu..
Bebaskn kyakinanmu..

Krn apa yg telah disatukn tak bs dpecah2kn,tp apa yg telah dpecah2kn itu adlh bukti dr tnda yg hidup...

=] amien..



Disadur dari cerita sahabat oleh Prima jefriandy M